My Word, My World

Just another WordPress.com weblog

Produksi Kekerasan di Layar Kaca Februari 10, 2008

Diarsipkan di bawah: Media — wijendaru @ 12:59 pm
Tags: , ,

Produksi budaya televisi (TV) adalah simbol. TV memproduksi dan menyiarkan realitas dalam bentuk simbol-simbol yang meliputi makna dan komunikasi, seperti kata, bahasa, mitos, nyanyian, seni, upacara, tingkah laku, benda-benda, konsep-konsep, dan sebagainya. Melalui simbol, TV telah mengubah realitas empiris lingkungan menjadi realitas simbolis. Sinetron adalah salah satu tayangan TV yang sangat jelas menampilkan realitas simbolis tersebut. TV menjadi jendela dunia bagi kita untuk melihat keseharian anak tiri yang penuh penderitaan, memahami kepedihan hati seorang anak pungut, mengenal kehidupan have fun go mad remaja pelajar ibukota, mengintip kejahatan (bukan lagi kenakalan) pelajar penuh dendam, dan sebagainya. Sejumlah pesan sebagai sebentuk simbol disampaikan secara berlebihan dan di luar akal sehat, terutama adegan kekerasan yang mendominasi tayangan sinetron. Tapi tokh, program-program tersebut justru menjadi pilihan tayangan yang menghibur. Lalu di mana letak hati nurani kita ketika kita justru terhibur oleh adegan-adegan kekerasan di sinetron?

 

Hiburan memang telah menjadi ideologi utama industri pertelevisian. Ini berarti bahwa segala sesuatu yang akan dijadikan acara TV akhirnya dikemas sebagai hiburan. Alih-alih menghibur masyarakat, jadilah kekerasan dikomoditaskan sebagai program hiburan keluarga. Bagi kebanyakan pemirsa, minat terhadap acara TV diukur dari seberapa besar kadar hiburannya; semakin besar kadar hiburannya, semakin sering acara tersebut ditonton. Sejumlah sinetron yang ditonton oleh paling banyak pemirsa ternyata menyimpan banyak adegan kekerasan. Melalui penokohan klise, seperti ibu tiri dengan stereotipnya yang keras dan kejam, serta anak tiri dengan stereotip lemah dan tertindas, sejumlah sinetron berhasil memancing emosi pemirsa, lalu mengikatnya untuk bertahan menyaksikannya. Ketika sebuah sinetron yang mengumbar kekerasan berhasil memposisikan dirinya dengan perolehan pemirsa terbanyak, maka sinetron seperti itulah yang dianggap berhasil, dianggap disukai pemirsa, dan dianggap menghibur. Maka kemudian diproduksilah sinetron-sinetron sejenis yang sarat dengan kekerasan karena dianggap laku. Laku ditonton pemirsa, berarti laku dibeli pengiklan, yang berarti pula untung besar. Demi keuntungan, akhirnya terjadilah keseragaman dalam tayangan TV yang tidak memberi banyak pilihan pada pemirsa.

 

Dalam menghadapi serbuan sinetron-sinetron sarat kekerasan, pemirsa telah ditarik oleh magnet sinetron sehingga seolah-olah tidak sedang menghadapi imaji atau gambar, melainkan realitas itu sendiri. Suguhan kekerasan “tampar sana bentak sini hajar sana pukul sini” yang seolah mengabaikan hati nurani dan intelektualitas itu telah menjadi sebuah realitas yang dihadirkan TV sebagai realitas semu. Dalam realitas semu atau yang oleh Jean Baudrillard disebut realitas buatan (hiper-realitas), TV menyajikan aliran gambar yang sudah tidak lagi mempunyai keaslian, tapi dianggap asli oleh pemirsanya. Ketika itulah, orientasi industri TV beralih dari orientasi produksi ke orientasi konsumsi, dalam arti lebih memenuhi selera pasar ketimbang upaya meningkatkan kualitas produksi. Dinamika pasar telah membuat TV berorientasi pada etika konsumsi dengan memprogramkan acara-acaranya sepenuhnya untuk memenuhi selera khalayak. Kekerasan telah menjadi komoditas yang laku dijual sehingga kualitas produksi pun terabaikan. Tetapi bukankah dinamika pasar itu ditentukan oleh TV itu sendiri? Diawali dengan melempar pesan (sinetron) ke pasar, TV mendapat respon hebat dari masyarakat. Dalam hal ini, TV berada dalam posisi membentuk selera pemirsanya sehingga TV seharusnya bisa menjadi media yang sepenuhnya mencerdaskan pemirsanya. Namun disukai atau tidaknya pesan itu tergantung pada “daya beli” (baca: intelektualitas) pemirsanya sehingga tidak semua jenis tayangan bisa dengan mudah diterima pemirsa. Untuk menjawab respon positif pemirsa atas sebuah tayangan, TV kemudian melipatgandakan produksi pesan. Nah, dalam hal ini TV berada dalam posisi memenuhi permintaan pasar sehingga keberlangsungan hidup sebuah sinetron tergantung kejelian TV dalam membentuk selera pasar dan kesediaan pemirsa untuk menerima tayangan yang dilempar ke pasar. Ibarat ayam dan telur, permasalahan ini menjadi sebuah lingkaran setan yang tidak pernah akan habis dibahas. (Sept 2005)

 


 

Leave a Reply