My Word, My World

Just another WordPress.com weblog

Spasialisasi, Hegemoni, dan Budaya Pop Februari 2, 2008

Diarsipkan di bawah: Media — wijendaru @ 5:49 pm
Tags: , ,

Komunikasi global telah membawa dampak dalam hubungan internasional di berbagai bidang, termasuk militer, diplomatik, ekonomi, pendidikan, dan kebudayaan. Perkembangan global dalam bidang komunikasi dan kebudayaan tak bisa hanya dilihat sebagai bagian dari sebuah neokolonialisme atau neoimperialisme media atau budaya. Sekarang yang juga terjadi adalah fenomena teknologi komunikasi modern dan industri-industri komersial gencar berekspansi ke seluruh dunia berikut konsekuensi-konsekuensinya. Ekspansi semacam itu terus berdampak luar biasa pada bagaimana budaya dibentuk, termasuk di Indonesia.

 

Gejala kultural akibat proses globalisasi yang tak terelakkan ialah munculnya homogenitas dari budaya pop. Dalam hal ini di mana Indonesia masih dalam posisi sebagai negara penerima, ditemukan bukti-bukti kuat adanya budaya pop Anglo-Amerika.[1] Budaya pop ini berkaitan erat dengan gaya hidup pada masyarakat konsumen Indonesia yang nyaris seragam. Gejala ini bukan saja akan menyeragamkan selera dan simbol, tetapi juga melarutkan segala batas identitas dalam keseragaman. Di tengah tarikan budaya semacam ini, corak keseragaman akan ditentukan oleh siapa yang kuat. Hal ini juga disokong, dewasa ini, dengan telah meluasnya media komunikasi, termasuk multimedia interaktif, yang dipakai masyarakat dunia untuk mengkonstruksi budaya melalui komunikasi.

 

Globalisasi, berasal dari kata dasar globe, yaitu bola bumi, mempunyai makna “proses pembumian sesuatu.” “Sesuatu” di sini biasanya berkaitan dengan ekonomi, dengan kapitalisme. Istilah lain yang juga sama seringnya dipakai dengan makna yang tidak berbeda adalah free market atau pasar bebas. Istilah “globalisasi” tentunya juga mempunyai kandungan ideologi budaya Barat karena diciptakan di bumi budaya Barat. Ekspansi kapitalisme awal Barat berjalan mulus setelah kokohnya kolonialisme Barat di Asia, Afrika, dan benua Amerika. Untuk bisa hidup langgeng, kolonialisme memerlukan terjadinya proses regenerasi. Sesuai dengan ciri kapitalisme, yaitu ongkos produksi minimum dengan keuntungan sebesar mungkin, para kapitalis-kolonialis memanfaatkan sumber daya manusia, setelah mengeruk sumber daya alam, dari negeri-negeri jajahannya.

 

Dalam perkembangannya kemudian masuklah MTV, salah satu stasiun televisi yang kini digemari kaum muda Indonesia. Jakarta pun menjadi pusat pembiakan globalisasi nilai-nilai budaya Barat pascakolonial. Kosmopolitanisme adalah kata kunci menuju sebuah kota pascakolonial yang sukses, walau makna dari istilah “kosmopolitan” itu sendiri sudah dipersempit, bukan lagi keanekaragaman lalu-lintas budaya dunia, tetapi terbatas pada budaya “made in USA.” MTV telah membuat dunia iklan budaya Barat, khususnya Amerika menjadi lebih menarik dan penuh entertainment.

 

Proses globalisasi budaya, yang juga mendominasi teknologi komunikasi dan kapital hingga ke bagian-bagian bumi yang belum tentu mampu menghasilkan teknologi serupa, yang dalam kasus ekonomi modern dikenal dengan istilah “dunia ketiga,” tak lepas dari peran percepatan komunikasi melalui teknologi komunikasi itu sendiri. Akibatnya, yang terjadi adalah komunikasi-satu-arah dan globalisasi-budaya-satu-arah. Dalam hal ini, tampak adanya gejala Amerikanisasi Indonesia oleh produk kapitalisme Amerika semacam MTV.

 

Perkembangan global dalam bidang komunikasi dan budaya ini juga membawa serta perhatian pada ideologi, kesadaran, dan hegemoni. Manipulasi yang dilakukan terhadap informasi dan citra publik mengkonstruksikan suatu ideologi dominan yang kuat yang membantu menopang kepentingan material dan kultural para penciptanya. Para pembuat ideologi yang dominan menjadi suatu elit informasi. Kekuasaan atau dominasi mereka berasal dari kemampuan politik atau ekonomi dalam menyampaikan kepada masyarakat ideologi atau sistem ide yang mereka sukai.

 

Ideologi akan mempunyai kekuatan apabila dapat dilambangkan dan dikomunikasikan; ideologi ditransmisikan dengan sarana “tata bahasa produksi (grammar of production) yang melaluinya media menguniversalkan suatu gaya hidup.”[2] Karena media sering menginterpretasi dan mensintesiskan citra-citra sesuai dengan asumsi-asumsi dari ideologi dominan, maka media amat mempengaruhi cara orang memahami ciri masyarakat mereka. Ideologi yang ditransmisikan melalui media dalam segala konteks politik-ekonomi-budaya yang diwakili oleh bahasa dan diinterpretasikan melalui bahasa berikut kode komunikasi, termasuk bentuk-bentuk visual dan musik tersebut kemudian diinterpretasikan dan digunakan oleh orang-orang dalam interaksi sosial sehari-hari.

 

Transmisi ideologis kemudian mempengaruhi kesadaran khalayak melalui lembaga-lembaga yang kuat dalam masyarakat yang menyusupi dan mempengaruhi tindakan khalayak. Kesadaran mencerminkan pola representasi ideologis dari media massa yang dominan dan meresap di mana-mana. Media massa kemudian menjadi alat yang digunakan oleh elit berkuasa utuk melestarikan kekuasaan, kekayaan, dan status mereka dengan mempopulerkan falsafah, kebudayaan, dan moralitas mereka sendiri. Media massa memperkenalkan unsur-unsur ke dalam kesadaran individual yang jika tidak demikian tak akan muncul, tetapi tak akan ditolak oleh kesadaran karena unsur-unsur itu dirasakan bersama dalam komunitas budaya itu. Ideologi yang di-mediamassa-kan dibenarkan dan diperkuat oleh sistem keagenan yang saling terkait dan efektif dalam mendistribusikan informasi dan praktik-praktik sosial yang sudah dianggap semestinya, yang merembes ke segala aspek realitas sosial dan budaya. Proses pengaruh ideologis yang saling memperkuat ini merupakan esensi hegemoni.

 

 

Kelas dominan, dengan hegemoni ini, menetapkan batas-batasnya — mental dan struktural — di mana kelas bawahan ‘hidup’ dan memahami subordinasi mereka sedemikian rupa sehingga mendukung dominasi orang-orang yang berkuasa atas mereka. Ahli teori komunikasi Jesus Martin-Barbero[3] mengatakan bahwa satu kelas menjalankan hegemoni selama kelas yang mendominasi itu mempunyai kepentingan yang oleh kelas-kelas bawahan diakui dalam tingkat tertentu sebagai kepentingan mereka juga. [bersambung]

 

 


[1]James Lull, Media, Komunikasi, Kebudayaan, Suatu Pendekatan Global, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 1998, h.xxviii.
[2]Ibid., h.6.
[3] Ibid., h.36.
 

Leave a Reply