[sambungan Spasialisasi, Hegemoni, dan Budaya Pop]
Salah satu bentuk ekspresi kebudayaan pop lainnya adalah musik atau lagu populer. Dalam hal ini, musik atau lagu populer yang sering diperdengarkan di radio-radio komersial merupakan tanda dalam kebudayaan pop[1]. Format musik yang dipilih oleh radio Hard Rock FM (HRFM), yaitu pop cross-over; a mixture of hot adult contemporary, contemporary hits radio, modern rock and other kind of musics, yang berarti mencakup semua jenis lagu yang sedang populer atau menjadi hits yang sesuai dengan segmen pendengarnya, yaitu pendengar dengan SSE A-B yang berusia 20-30 tahun. Berarti pula HRFM tidak membatasi jenis musik yang diputar selama lagu tersebut populer dan sesuai dengan segmen pendengarnya. Sebagai lifestyle and entertainment station, menurut Music Director MTV On Sky Rusli, musik hanya sebagai companion, di mana fokus siaran-(basic program)-nya lebih ditekankan kepada informasi lifestyle and entertainment.
Sementara itu, format musik yang dipilih oleh MTV On Sky adalah Contemporary Hits Radio (CHR), di mana lagu-lagu yang diputar adalah yang disebut sebagai lagu-lagu Top-40. Hal ini berarti lagu-lagu populer yang diputar di radio ini adalah lagu-lagu baru dengan komposisi 80% lagu baru dan sisanya lagu lama dalam satu jam siaran. Basic program MTV On Sky adalah musik, dengan slogan: Music, all music, and nothing but music, yang diperkuat dengan sebutannya sebagai the grooviest music station. Berbeda dengan HRFM, MTV berupaya menjangkau segmen khalayak yang berusia 15-25 tahun.
Berdasarkan format musik yang dipilih, baik oleh HRFM maupun MTV On Sky, maka lagu-lagu yang diputar, dapat dikategorikan ke dalam jenis lagu Rock and Roll. Rock identik dengan energi, sifat memberontak dan daya tariknya, dan seiring dengan semakin banyaknya aliran musik tersebut, rock mulai menampilkan karakteristiknya, menekan batas-batas dalam dunia musik.
Penulis menggunakan model analisis José Luiz Martinez[2] karena dalam penulisan ini yang ditelaah adalah musik, yang sebenarnya mengacu pula pada hubungan dasar semiotik dari model Peirce. Hubungan antara tanda, interpretan, dan objek dari musik rock dapat dijabarkan sebagai berikut :
Dalam intrinsic musical semiosis[3], musik rock merupakan suatu tanda musikal. Intrinsic musical semiosis atau studi tentang tanda musikal itu sendiri, berhubungan dengan penandaan (signification) musikal internal. Semiosis intrinsik mencakup kualitas musikal, aktualisasi kerja musikal, dan pengorganisasian habits of music, seperti sistem musikal. Qualisign dari musik rock ditunjukkan oleh kualitas musikal — seperti warna nada, ritme atau melodi — dan penampilan material dari masing-masing aliran musik rock itu. Pengorganisasian unsur-unsur musikal, seperti warna nada, ritme dan melodi sehingga menghasilkan sejumlah aliran disebut sebagai legisign. Dengan demikian, legisign menunjuk pada aliran musik adult alternative pop/rock, alternative pop/rock, adult contemporary, alternative dance, american trad rock, britop, club/dance, contemporary R&B, dance-pop, Euro-pop, grunge, hard rock, pop/rock, rap-rock, teen pop, dan urban, di mana penamaan aliran-aliran tersebut didasarkan atas konvensi atau kesepakatan bersama sejumlah musisi. Lagu-lagu yang kemudian dibawakan oleh para penyanyi dan diperdengarkan di stasiun radio, kaset rekaman, dan sebagainya, disebut sebagai sinsign. Dengan demikian, sinsign menunjuk pada keseluruhan penampilan lagu; pada bagaimana lagu itu dinyanyikan dan diperdengarkan kepada audiens.
Musical reference[4] atau studi tentang tanda musikal yang berhubungan dengan objeknya, berkaitan dengan penandaan musikal dari objek dalam pengertian yang lebih luas, termasuk bagaimana tanda musikal mengacu pada objek, bagaimana objek yang dinamis diwakili oleh musik, dan bagaimana hubungan antara objek yang dinamis dengan objek yang diwakili dalam tanda. Dalam hal ini, musical reference mengacu pada penyanyi yang membawakan lagu-lagu beraliran rock. Dalam model semiotik Peirce, musical reference sama dengan tanda yang dihubungkan dengan objeknya, yaitu artis yang membawakan lagu. Musik atau lagu menggambarkan kenyataan yang ada dalam diri penyanyinya atau masyarakat yang mengelilinginya yang diwakilkan atau terwakilkan pada penyanyinya atau dalam warna musiknya. Di sini, tanda musikal dan objek menghadirkan hubungan identitas, di mana aliran musik tertentu menjadi identitas dari penyanyinya.
Sementara musical interpretation[5] adalah studi tentang tanda musikal yang dihubungkan dengan interpretannya, berhubungan dengan aksi atas tanda musikal dalam pikiran. Musical interpretation ini berhubungan dengan imaji yang timbul atas suasana atau diri penyanyinya sebagai akibat mendengarkan musik atau lagu tertentu. Imaji yang ditampilkan dari beragam aliran lagu rock yang diputar, baik di HRFM maupun MTV On Sky, adalah realitas masyarakat Amerika yang kreatif, inovatif dan multikultural, yang tampak dari aliran musiknya yang beragam, tapi juga antara lain tampak dari penyanyi-penyanyinya yang berasal dari ras berkulit putih, dan ras berkulit hitam. Melalui aliran musiknya yang beragam dan dengan imaji yang diciptakannya, musik rock juga menampilkan realitas masyarakat Amerika yang reflektif, bersemangat, teatrikal, senantiasa berhubungan dengan pesta/perayaan, gaya (stylish), dan riang-gembira, yang diwakilkan dalam penampilan penyanyinya. Penyanyinya itu sendiri menjadi ikon budaya pop yang menampilkan realitas selebriti Amerika dengan gaya hidupnya yang glamor, gaya, selalu berpesta, seperti halnya image yang ditampilkan oleh musiknya.
Secara terus menerus lagu-lagu tersebut diputar untuk menghibur pendengarnya, dan gambaran kebangsaan Amerika semakin memperoleh kekuatannya dengan diputarnya lagu-lagu tersebut sepanjang hari. Di sini, gambaran Amerika yang hadir ketika mendengarkan lagu-lagunya, diperkuat oleh penampilan panggung penyanyinya, di mana dalam industri musik sebagai budaya pop, penampilan, yaitu tampang dan dandanan, termasuk juga gaya hidup, menjadi komoditas yang laku dijual.
Makna yang mengacu pada ekspresi musik rock tersebut mempunyai hubungan yang kuat dengan konteks budaya masyarakat Barat. Gaya hidup yang glamor, gaya, dan selalu berpesta yang menjadi imaji dari kehidupan penyanyi-penyanyi tersebut memungkinkan pendengar, dalam hal ini kaum muda perkotaan di Jakarta, khususnya, menerima tanda ini sebagai imaji yang relevan dengan dirinya. Dalam hal ini, relevansi timbul karena segmen pasar yang dituju, baik oleh HRFM maupun MTV On Sky, adalah kelompok generasi muda dengan pengeluaran tinggi (high spending) dan gemar ke klub (clubbing), sehingga generasi muda ini bisa menerima imaji dari penyanyi-penyanyi tersebut sebagai imaji yang relevan dengan dirinya.
Sebagai budaya pop, lagu-lagu rock, yang digambarkan sebagai jenis musik modern yang berasal dari negara Barat, khususnya Amerika, mementingkan masa kini. Hal itu tampak dari lirik, ritme, melodi, dan warna lagu yang semakin beraneka ragam dan selalu mengikuti selera pasar, serta penyanyinya yang senantiasa memperhatikan penampilannya dengan mengikuti atau bahkan menciptakan tren terbaru. Lagu-lagu tersebut dengan mudah timbul tenggelam karena orang lekas puas, cepat bosan, dan jenuh terhadap sesuatu hal di balik hempasan kebudayaan pop. Begitu pula dengan penyanyinya yang begitu digandrungi ketika baru muncul, untuk kemudian dikenang ketika banyak bermunculan penyanyi baru. Lagu-lagu baru dan populer yang diputar untuk mengikuti selera pasar tersebut merupakan ciri budaya pop yang menyukai penghargaan pasar.
Hal tersebut sekaligus menunjukkan ciri utamanya sebagai budaya pop, yaitu keberadaannya berlangsung terus dalam kehidupan sosial. Lagu akan selalu hadir dalam kehidupan sosial masyarakat sebagai alternatif hiburan dengan selalu diproduksi dan diciptakannya lagu-lagu baru untuk mengantisipasi selera masyarakat yang selalu berubah. Dalam kehidupan sosial, masyarakat yang berubah akan tetap melahirkan budaya pop, termasuk lagu populer.
Sebagai budaya pop, lagu-lagu tersebut juga menjadi suatu komoditi yang mengikuti kriteria standardisasi produk, seperti halnya barang-barang komoditi massal lainnya. Standardisasi membuat lagu yang didengar di Indonesia sama dengan lagu yang didengar di Amerika. Dalam hal ini, HRFM dan MTV On Sky menjadi media yang menyebarkan komoditi massal tersebut kepada masyarakat Indonesia pada umumnya dan generasi muda kelas menengah perkotaan pada khususnya, yang sekaligus membentuk selera musik global generasi muda tersebut. MTV, misalnya, dengan guideline it’s all about music-nya membuktikan bahwa musik dan semangat yang dipancarkannya mampu membentuk satu gaya hidup kaum muda. MTV telah menjadi media hiburan dan informasi yang bersifat gaya hidup perkotaan modern yang mewakili jiwa anak muda melalui program musiknya, serta telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan remaja perkotaan.
Melalui media tersebut, HRFM dan MTV On Sky menjadikan musik sebagai saluran katarsis, eskapisme dan hedonisme[6], yang mengalienasi generasi muda dari kejenuhan informasi, hiruk-pikuk dan hingar-bingar sosial dan politik di lingkungannya. Sementara itu, dengan kekuasaan budaya yang dimilikinya, kaum muda memproduksi makna atas kehadiran musik tersebut. Mereka mengidentifikasikan diri dengan makna atau imaji yang ditimbulkan oleh musik tersebut dan mulai membangun cara hidup yang menurutnya menarik. Sebagai budaya pop, lagu-lagu yang diputar baik di HRFM maupun MTV On Sky, membuat semakin berkuasanya nilai-nilai hiburan dalam kehidupan generasi muda kelas menengah perkotaan.
Melalui aliran-aliran musiknya yang beragam itu, musik rock memiliki konotasi sebagai musik komersial, mesin pengeruk uang, mendominasi mode, tidak berotak, dan identik dengan musik dansa remaja. Dalam konteks masyarakat Barat penekanannya adalah pada musik rock dan pop dengan berbagai alirannya yang diproduksi dan dipasarkan secara komersial untuk memperoleh keuntungan kapital dari pasar sasarannya. Musik dibendakan dalam bentuk kaset rekaman untuk kemudian dipasarkan dan diputar di stasiun-stasiun radio di seluruh dunia. Aliran musik ini telah menjadi sarana hiburan yang dikomoditaskan menjadi commodity listening. Musik lahir untuk memenuhi kebutuhan massa yang ingin menikmati hiburan. Ideologi plesir yang dibawa radio berhasil masuk ke dalam kehidupan sehari-hari seseorang dengan dimanfaatkannya waktu luang dengan mendengarkan musik atau bahkan menjadikan musik sebagai teman (companion) dalam beraktivitas. Kesadaran seseorang telah dikonstruksi untuk menjadikan musik sebagai bagian yang lumrah dari hidup, padahal dalam kapitalisme global, musik adalah sebuah komoditi. Hal ini berarti bahwa pasar telah dikuasai kelompok kapitalis Barat dengan masuknya musik, terutama musik Barat, sebagai bagian dari kehidupan.
Sebagai commodity listening, musik yang diyakini bisa memberikan kehangatan insani dan makanan rohani bagi pendengarnya, juga membawa ideologi plesir. Maka bukan hanya keuntungan kapital yang diperoleh tetapi juga selera, impian, dan imajinasi generasi muda dapat dengan mudah didikte, bahkan secara politik dapat diapatiskan dengan berhasil dikuasai dan dihegemoninya waktu luang mereka lewat ideologi plesir yang dibawanya.
Menurut Roland Barthes[7], tujuan dari ideologi adalah untuk membawakan kepada dunia tentang “apa yang terjadi tanpa mengatakan” dan menunjukkan konotasi dunia tersebut. Dalam hal ini, ideologi plesir berusaha membawakan gambaran kepada dunia bahwa hiburan, seperti mendengarkan musik atau lagu populer, adalah hal yang wajar dalam kehidupan. Makna-makna ideologis itu menjadi tampak alami dan dapat diterima dengan akal sehat dengan penyajiannya yang menarik, yaitu dengan beragamnya aliran musik. Sifatnya yang ringan, mudah diterima, menghibur, dan sederhana, serta strukturnya yang mudah dikenali, pun menjadikan musik rock, khususnya, dengan mudah menjadi bagian dari gaya hidup generasi muda kelas menengah perkotaan.
Dilihat dari perspektif Marxis, majalah dan musik, sebagai alat ideologi negara yang terkait dengan seni dan budaya, merupakan suatu sarana hiburan yang menarik, apalagi dengan ditampilkan sosok selebriti sebagai pemikat, serta beragamnya aliran musik dan imaji yang ditimbulkan oleh penyanyinya. Sebagai alat ideologi, fungsi dari hiburan tersebut, dalam hal ini fungsi latennya, dapat dikatakan untuk mengalihkan perhatian orang dari situasi sosial mereka yang sesungguhnya, mengalihkan perhatian mereka dari situasi politik yang tidak menentu, menghilangkan kejenuhan akan berita-berita politik yang tidak menentu, dan untuk menyalurkan energi emosional mereka yang mungkin terpakai pada isu-isu politik dan sosial.
Sebagai artifak budaya pop, majalah dan lagu rock menjadikan budaya pop Amerika sebagai suatu bentuk dominasi terhadap budaya Dunia Ketiga, termasuk Indonesia, melalui transmisi nilai-nilai dan produk-produk yang oleh masyarakat negara-negara Dunia Ketiga dipercaya memiliki kualitas yang tinggi, sehingga mereka dengan senang hati menerimanya sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Amerika berusaha menjual nilai-nilai, gaya hidup, dan produk-produknya ke berbagai negara Dunia Ketiga melalui media yang memiliki jaringan internasional sehingga majalah dan lagu-lagu rock tidak lagi sekedar berfungsi sebagai hiburan, tetapi melalui ideologi plesirnya itu, juga menjadi sarana bagi promosi gaya hidup, nilai-nilai, dan produk-produk dengan karakter Amerika, yang mengandung unsur entertainment dan lifestyle.
Majalah dan musik adalah bisnis hiburan yang besar yang hadir untuk satu tujuan : mendapatkan uang dengan memanfaatkan mereka yang teralienasi. Di satu pihak, majalah dan musik menjadi komoditas, objek untuk dijual dan diperdagangkan. Di lain pihak, orang pun memanfaatkan objek-objek komoditas tersebut untuk melarikan diri dari keterasingan mereka. Di samping itu, melalui bisnis hiburan ini, majalah dan musik berusaha mendominasi mode melalui imaji yang berhasil diciptakannya. Majalah dan musik tidak lagi sekedar berfungsi sebagai hiburan, tetapi melalui ideologi plesirnya itu, keduanya menjadi barang komoditi yang berusaha menguasai selera generasi muda lokal.
[1] José Luiz Martinez, A Semiotic Theory of Music: According to A Peircean Rationale, http://www. pucsp.br/~cos-puc/rism/jlm6ICMS.htm.
[2] Ibid.
[3] Ibid.
[4] Ibid.
[5] Ibid.
[6] Idi Subandy Ibrahim, Kebangkitan “Generasi Ne(X)t” dalam Rimba Budaya Pop: Parodi di Balik Budaya Musik Kawula Muda dalam Jurnal Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia, Industri Pers dan Prospek Kebebasannya, Vol. V/Oktober 2000, Penerbit PT Remaja Rosdakarya, Bandung, 2000, h.163.
[7] Arthur Asa Berger, Media Analysis Techniques, Second Edition, Penerbitan Universitas Atma Jaya, Yogyakarta, 2000, h.15.
Saya mahasiswa yang sedang membuat skripsi tentang musical semiotics. Mungkinkah bila saya bisa berbagi referensi dengan anda? bila memungkinkan mohon email saya di mbabitha@hotmail.com. Terima kasih.